Wednesday, September 30, 2009

Relax, God is not that cruel...

RancanganKu bukan rancangan kecelakaan tetapi rancangan damai sejahtera" (Yer 29:11)




Belum lama ini kira-kira 1 bulan yang lalu, perasaanku selalu kuatir. Apa sebabnya? Well....nggak jauh-jauh dari pekerjaan pastinya. Tanggal 11 September kontrak ku di tempat kerja yang sekarang selesai dan sementara itu sampai awal september masih belum ada berita dari atasan apakah kontrakku diperpanjang atau nggak. Setiap kali ku tanya ke supervisorku, beliau selalu bilang "sedang dipertimbangkan bapak." Tiap kali aku cerita ke orangtuaku mereka selalu bilang, "tenang aja, pasti diperpanjang kok." Aku juga maunya begitu...tapi masalahnya, for the 1st time aku nggak yakin akan posisiku di tempat kerja. Sebelum kerja di tempat ini aku selalu bisa melakukan pekerjaanku dengan baik, bahkan nggak jarang aku jadi salah satu favorit atasanku. Tapi di tempat ini......it seems like my magic is gone. Aku banyak banget melakukan kesalahan dan nggak peduli seberapa keras aku berusaha, entah kenapa aku selalu berakhir melakukan kesalahan yang sama. Bukan cuma sekali, dua kali, atau tiga kali, tapi berulang-ulang. Selain itu, aku nggak bisa sepenuhnya "in" sama teman-teman kantorku. Nggak sampai musuhan atau gimana sih...tapi juga nggak sepenuhnya membaur. Aku kuatir atasanku akan menganggap aku nggak kompeten dah akhirnya nggak mau memperpanjang kontrak. Kalau aku sudah punya pekerjaan cadangan mungkin nggak pa-pa, tapi aku belum punya cadangan apapun. Bayangan bahwa aku akan sekali lagi berstatus jobless benar-benar menakutkan. Bukan hanya statusnya, tapi juga fakta aku harus kehilangan sumber income juga sangat mengerikan bagiku. Selain itu, apabila mereka yang tidak mau meneruskan kontrak, sedikit banyak aku pasti akan merasa tertolak dan perasaan itu sangat tidak menyenangkan. Selama berhari-hari setiap kali di tempat kerja aku selalu dibayang-bayangi pertanyaan " Apakah bulan depan aku masih akan tetap mempunyai pekerjaan?"


Satu hal yang ditekankan di keluargaku, kalau kita ada masalah larilah ke Tuhan. So i did. i prayed. Awalnya aku protes sama Tuhan, kenapa Dia izinkan aku ada di posisi seperti ini. Kenapa aku bisa jadi orang yang seolah-olah ga bisa apa-apa, padahal biasanya aku selalu bisa melakukan kerjaanku dengan sangat baik. Aku juga bilang aku takut...aku takut kalau ternyata atasanku nggak mau memperpanjang kontrakku...aku takut menyandang status jobless....aku takut nggak punya penghasilan....Di tengah-tengah doaku aku diingatkan bahwa Tuhan sangat mencintaiku dan sebagai Bapaku, ia tidak akan mungkin mau sesuatu yang buruk terjadi padaku. Aku diminta untuk tenang dan percaya. Pikiranku bisa menerima, tapi hatiku belum. Aku masih kuatir.


Tapi suatu malam waktu aku sibuk mengganti pasir untuk hamster-hamster peliharaanku dan memberi makan mereka, aku diingatkan sesuatu. Kalau aku saja, manusia, bisa menyayangi peliharaanku sampai rela menyempatkan waktu untuk memberi makan dan mengganti pasir mereka walaupun badan sudah sangat lelah sepulang kantor, masa iya sih Tuhan tidak akan memeliharaku lebih dari aku memelihara hamster-hamsterku. Aku, yang dianggapNya anak, yang sangat dikasihi dan dilindungi seperti biji mataNya sendiri.

Setelah semua urusanku dengan hamster-hamsterku selesai, aku baru benar-benar sadar betapa aku selama ini meragukan kasih Tuhan untukku. Aku bilang bahwa aku anakNya, tapi pada saat ada persoalan aku nggak percaya Ia akan menjagaku layaknya seorang Bapa menjaga anak-anaknya. Ku rasa hal itu karena ada bagian dalam hatiku yang masih belum sepenuhnya mengeklaim bahwa aku adalah anak kesayanganNya. Lewat peristiwa ini aku diajarkan untuk percaya pada kasihNya. Dari awal masuk ke dunia pekerjaan aku selalu menekankan ke diriku bahwa di manapun aku bekerja nantinya, bosku sesubgguhnya adalah Tuhan. Di kantorku sekarang ini aku kembali diingatkan, tak peduli berapa banyakpun kesalahan yang ku buat, jika Big Boss menginginkan aku masih bekerja di perusahaanNya, maka aku akan tetap tinggal. Begitu juga sebaliknya, tak peduli betapa hebatnya aku dalam pekerjaanku, jika Big Boss ingin aku keluar, maka aku pasti akan keluar, entah bagaimana caranya. Beberapa hari setelah peristiwa "membersihkan kandang hamster", aku dapat kabar dari supervisorku bahwa kontrakku akan diperpanjang. Bersyukur karena masih memiliki pekerjaan? Pastinya. Tapi aku lebih bersyukur akan pelajaran yang ku dapat melalui hal ini.

Sekarang ini aku juga mulai melihat alasan kenapa Tuhan izinkan aku mengalami situasi yang nggak enak di tempat kerja seperti itu, kenapa aku dibuat seolah-olah benar-benar nggak berdaya. Ku rasa Tuhan mau aku sepenuhnya bergantung ke Dia. Kalau aku dibuat mampu melakukan pekerjaanku yang sekarang dengan sangat baik, maka pada saat perpanjangan kontrak, maka aku akan berkata " sudah seharusnya mereka memperpanjang kontrakku, karena aku memang hebat." Sementara, dengan situasi yang sekarang aku sepenuhnya menyadari bahwa aku memiliki pekerjaan yang sekarang, semua karena Dia. Lewat peristiwa ini aku benar-benar melihat, apapun yang Ia rencanakan pasti sesuatu yang baik karena Ia terlalu mengasihi kita untuk menyakiti kita.

Sekarang, berbekal peristiwa tadi, setiap pikiranku kuatir t dan mulai memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, aku akan bilang pada diriku....relax, God is not that cruel, apapun yang akan terjadi pasti berbuah sesuatu yang positif




Thursday, July 16, 2009

Ledakan JW Mariot & Ritz Carlton: an invitation to love

Pagi ini Jakarta kembali dibuat gempar oleh ledakan di dua hotel besar di daerah kuningan; Ritz Carlton dan JW Mariot. Untuk, Mariot, ini kedua kalinya hotel tersebut terkena ledakan seperti ini. Seperti yang dapat diperkirakan, sebagian besar yang terluka adalah warga negara asing, bahkan menurut kabar yang sempat kudengar di TV, sudah ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.


Tak ketinggalan, facebook pun penuh dengan status-status yang mengomentari hal tersebut. Banyak yang memperkirakan bahwa ledakan tersebut adalah hasil perbuatan para teroris seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sebagian besar komentar yang kubaca menyatakan kemarahan mereka terhadap peristiwa itu; betapa biadab dan kejinya kaum terroris karena telah melakukan pemboman yang merenggut nyawa beberapa orang dan melukai banyak orang yang lainnya.

Di satu sisi kita diperhadapkan dengan kekejian hati manusia. Betapa manusia bisa mengorbankan apapun dan siapapun demi kepentingannya. Bahwa mereka akan menggunakan segala cara, termasuk meledakkan dua buah hotel besar, tidak peduli siapa yang dirugikan atau siapa yang terluka, selama mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, di sisi lain peristiwa tersebut adalah juga sebuah ajakan untuk mengasihi. Peristiwa peledakan seperti itu terjadi karena minimnya kasih dalam hati orang-orang tersebut.

Take away love and our earth is a tomb.
- Robert Browning

Quote di atas sangat tepat menggambarkan apa yang baru saja terjadi. Tanpa kasih, dunia ini akan berubah menjadi pemakaman; tanpa kehidupan. Jika saja para teroris itu memiliki cukup kasih di hati mereka, mereka tidak akan melakukan peledakan seperti yang sudah mereka lakukan. Kita hanya dapat memberikan apa yang kita miliki. Saat apa yang kita berikan adalah sesuatu yang menyakitkan, itu hanya menggambarkan bahwa hati kita pun dipenuhi dengan hal-hal yang negatif. Saat ini Tuhan mau menantang kita untuk mengampuni dan mengasihi musuh kita, karena hanya dengan kasih hati mereka akan dilembutkan. Dengan mengampuni dan mengasihi, setidaknya kita berkontribusi untuk "meredakan aura negatif" di sekitar kita. Api tidak akan pernah padam kalau dilawan dengan api.


Selain itu, kurasa Tuhan juga mau mengingatkan tentang hal-hal yang penting dalam hidup kita, hal-hal yang kita katakan kita cintai, namun kadang tidak terlalu perdulikan. Seringkali saat mendengar berita-berita mengenai bencana seperti yang baru saja terjadi, aku terpikir....seandainya aku termasuk salah satu yang tewas....hanya ada dua pertanyaan yang selalu muncul di benakku: am i loved enough? Have i love enough? Jika peristiwa seperti pemboman ini terjadi, dan aku adalah salah satu korbannya, aku tidak mau menyesal karena aku tidak cukup mengungkapkan betapa aku mengasihi orang-orang yang kukasihi. Atau kadang, aku berpikir sebaliknya: bagaimana jika seandainya orang-orang yang kukasihi menjadi salah satu korbannya. Pada saat memikirkan hal ini biasanya aku disadarkan kembali betapa penting arti mereka dalam hidupku, dan betapa aku bersyukur saat ini masih bisa bersama mereka. Dua pemikiran tersebut selalu mengingatkanku untuk terus menghargai orang-orang dalam hidupku, karena aku tak pernah tahu kapan aku kehilangan mereka...atau mereka kehilanganku.


Seringkali saat sesuatu yang mengerikan seperti ini terjadi, kita bertanya "Dimana Tuhan? Kalau memang Ia ada dan mengasihi manusia, mengapa Ia biarkan semua hal mengerikan ini terjadi?" Kurasa jawaban untuk pertanyaan itu hanya satu: Tuhan ada di tengah-tengah kita, dan Ia mengizinkan itu terjadi supaya kita ingat untuk lebih lagi dalam mengasihi. Ia ingin memastikan bahwa kali ini kita memperhatikan apa yang ingin Ia sampaikan, karena kadang kita mengabaikan peringatan yang lembut.


"God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pains; it is His megaphone to rouse a deaf world."

- C. S. Lewis

Sunday, June 07, 2009

Nothing is impossible

Beberapa minggu yang lalu perusahaanku merayakan ulang tahun yang ke 7, dan karena direkturku sangat suka karaoke beliau menjadikan "sumbang lagu" sebagai bagian wajib dari acara tersebut. Sudah pasti para karyawan pun diminta untuk ikut sumbang lagu.Seperti bisa ditebak, kami mulai rusuh saling menyuruh yang lainnya untuk maju. Dalam hati sebenarnya aku ingin maju tapi...



Mamaku punya suara yang bagus, dan sepertinya itu menurun ke anak-anaknya. Adikku, satu tingkat di bawahku, punya suara yang sangat bening, tipe yang bisa bikin kita takjub. Dua adikku yang lain awalnya punya suara yang agak fals tapi seiring dengan waktu somehow suara mereka pun jadi merdu. Sedangkan aku sendiri, dari kecil aku sangat suka bernyanyi dan menurutku suaraku nggak kalah bagus dengan adik-adikku.


Tapi sayangnya...semua itu hanya menurutku, orang lain sepertinya nggak ada yang setuju. Pernah suatu ketika aku bersenandung, waktu itu adikku duduk di dekatku. Beberapa lama kemudian dia melihat ke arahku dan bilang "oh, yang nyanyi-nyanyi tuh kakak, aku kira tadi itu suara kucing di belakang." Ouch! Yang lebih dalam adalah dia bilang seperti itu bukan dalam rangka bercanda, tapi dia benar-benar mengira suaraku adalah suara kucing yang sedang mengeong-ngeong. Ayah tiriku bahkan pernah tertawa setelah mendengarku bernyanyi dan bertanya (dengan serius) " kamu kok kalo nyanyi nadanya nggak ada yang benar ya?" talking 'bout painful honesty...So, bisa dibilang suaraku itu sering dijadiin bahan ejek-ejekan di rumah. Dan aku belajar untuk ikut tertawa…walau kadang itu menyakitkan.


Nggak lama setelah bergabung dengan gerejaku yang sekarang aku ditarik ke divisi musik untuk jadi singer. Bukan karena suaraku bagus, tapi karena para “tetua” ingin memberdayakan anak-anak pemudanya supaya kami punya wadah penyaluran kreativitas. Satu sisi aku sih senang-senang saja karena pada dasarnya aku suka menyanyi. Tapi di sisi lain…aku merasa minder. Aku merasa semua anak-anak pemuda yang ikut jadi singer bersamaku punya suara yang lebih baik, bahwa suaraku yang paling “hancur” di antara semuanya. Bahkan kalau kepercayaan diriku sedang “terjun bebas”, aku kadang merasa alasan aku tidak dikeluarkan dari divisi musik adalah karena para tetua itu merasa tidak tega kalau harus mendepakku…dan juga fakta saat itu departemen musik agak kekurangan orang. Yang lebih parah lagi adalah…adikku ada di satu divisi yang sama denganku…aku selalu berpikir bahwa sedikit banyak orang pasti membanding-bandingkan kami…


Tapi, walaupun aku sering sekali merasa minder dan nggak mampu, aku nggak pernah berhenti karena perasaan-perasaan itu. Aku coba untuk tetap maju. Untukku, itu adalah talenta yang Tuhan sudah percayakan ke aku. Mungkin talenta yang aku punya nggak seberapa, bahkan jauh lebih kecil dibandingkan milik orang lain, tapi aku mau mempertanggungjawabkannya. Aku sadar bahwa suaraku nggak sebagus yang lain, jadi aku coba untuk menyumbangkan sesuatu yang lain untuk divisi musik. Aku menyumbangkan semangatku.

Aku mencoba untuk nggak peduli dengan kelemahanku dan justru memfokuskan sama kekuatanku. Sebagai singer, kadang nggak selalu gampang untuk bias full spirit di panggung. Kadang aku selisih paham dengan pemimpin pujian, kadang aku merasa nggak siap karena tahu-tahu pendetanya membawakan lagu yang aku nggak tahu sama sekali, kadang aku sedang mengalami masalah yang berat, kadang aku simply sedang nggak mood untuk pelayanan, tapi setiap aku naik ke atas panggung, aku coba untuk kesampingkan itu semua dan fokus dengan apa yang kulakukan. Aku mempersembahkan lagu dan hatiku ke Tuhan, dan aku mencoba untuk membantu jemaat melakukan hal yang sama.


Satu kali aku mendengar kesaksian seorang pendeta yang menyentuh jiwaku. Dia bilang dulu suaranya sangat sumbang dan sering di jadikan bahan ejekan teman-temannya. Tapi, Tuhan membela dia dan secara perlahan menjadikan suaranya menjadi bagus dan sekarang dia sudah menjadi seorang pemimpin pujian dan dapat dengan bangga memamerkan suaranya. Saat aku mendengar itu aku sangat tersentuh. Aku bilang ke Tuhan “ Tuhan, aku mau seperti orang itu. Aku mau suatu saat aku akan jadi seorang pimpinan pujian yang hebat!” Bukan untuk kebanggaanku (walaupun itu pasti akan membanggakan J ), tapi untuk menjadikan hal itu sebagai kesaksian akan kasih Tuhan. Bahwa Ia sangat memperhatikan anak-anak-Nya bahkan untuk hal yang sepele seperti itu. Saat itu aku seperti mendengar Tuhan mengatakan “mintalah maka kamu akan diberi.”









Walaupun itu adalah permintaanku, aku tidak berani mempercayai jawabanNya.


….


Kembali ke pesta ulang tahun perusahaanku. Singkat cerita, aku akhirnya memutuskan untuk menyumbang lagu. Waktu itu aku duet dengan salah seorang rekan kerjaku, karena nggak pede aku membiarkan dia untuk “membuka nada” biar nanti aku yang mengikuti. Karena sudah biasa menjadi singer, setidaknya aku biasa untuk berekspresi saat menyanyi. Aku yang awalnya sangat gugup (biar bagaimanapun ini di depan banyak orang yang tidak kukenal) akhirnya merasa santai. Begitu selesai, beberapa orang menyerukan “more!more!” yang tadinya hanya kuanggap bercandaan biasa saat ada rekan yang habis menyanyi. Tapi kemudian, direkturku meminta supaya aku membawakan satu lagu lagi…dan kali ini dia khusus meminta agar aku menyanyi solo. Bahkan, pada saat suasana mulai meredup, beliau sempat memintaku (dan bukan yang lainnya meskipun banyak yang suaranya cukup bagus) untuk membawa satu lagu lagi. “Well, he likes my singing!” batinku. Tapi saat itu aku masih berpikir ia menyukai nyanyianku karena gayaku yang cuek. Sore itu, salah satu rekanku berkata “ suara loe bagus juga ya!” Hatiku rasanya terbang saat mendengar pujian itu! Dan ternyata, ia bukan satu-satunya yang memujiku. Beberapa rekan yang lain, dan juga salah satu atasanku juga memuji bahwa aku memiliki suara yang bagus!

Aku tahu pujian itu bukan untukku, tapi bagi Dia yang memampukanku. Aku, yang sebelumnya dibilang tidak pernah bisa menyanyikan lagu dengan nada yang tepat, bahkan senandungku dibilang seperti suara kucing, sekarang bisa menyanyi…dan dianggap memiliki suara yang bagus. Aku tahu masih banyak sekali yang harus kupelajari, masih banyak kekuranganku dalam mengolah vocal dan aku juga tahu aku takkan pernah sebagus beberapa orang di sekitarku. Tapi bagiku, pengakuan ini adalah pembuktian Tuhan bahwa apa yang kuminta bukanlah sesuatu yang mustahil, bahwa apa yang Ia janjikan itu mungkin untuk terjadi selama aku mau mempercayai dan mengembangkan talenta yang ia berikan ini, sekecil apapun itu. Bagiku, pengakuan tersebut adalah langkah awalku untuk mewujudkan keinginanku untuk suatu saat dapat berada di depan banyak orang dan menjadi seorang pemimpin pujian yang dapat menyatakan kasih dan kuasaNya.


Nothing is impossible, but only by His grace.

Friday, April 24, 2009

Rainbow after the storm





Ku tahu tiada pelangi di langitku

Ku tahu badai menghadangku

Aku pun tahu aku kan hancur

Dihancurkan dan dihempaskan


Namun ku tak gentar

Karena satu ku percaya

Sgala yang Dia perbuat

Kan jadikanku lebih berharga


Bagai emas yang tengah ditempa

Dia kan jadikan mulia

Bagai pelangi yang dilukisNya setelah badai

Dia kan jadikan semuanya lebih indah

Sesuai kehendakMu




Meski berat kurasa

Meski badai menghadang

Namun ku kan setia hanya pada Mu


Jika bukan oleh perintah Mu

Jangan biarkan kakiku melangkah

Jika bukan karena apa yang Kau mau

Jangan biarkan ku bertindak


Hidupku Bapa hanya milikMu

Hidupku Tuhan ku s’rahkan pada Mu

Setia

Beberapa waktu ini aku sedang bergumul tentang hal ini di dalam pekerjaan. Seringkali terlintas pemikiran untuk keluar atau mencari pekerjaan yang lain. Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa disyukuri tentang pekerjaanku yang sekarang; jarak yang sangat dekat dari rumah (berangkat 5 menit, pulang 15 menit), direkturku yang kekeluargaan dan sangat jarang marah, peraturan perusahaan yang tidak terlalu ketat, kebebasan dalam berpakaian, kami bahkan boleh memasang musik saat jam kerja. Sounds like a dream job? Maybe, but not for me.


Mungkin orang akan bilang aku tidak bersyukur, trust me I’m very grateful! Masalahnya, saat ini aku merasa ini bukan jenis pekerjaan yang cocok untukku. Cita-citaku yang sebenarnya adalah untuk jadi seorang psikolog, tapi karena aku memutuskan untuk meraih gelar S2 ku dengan hasil jerih payahku sendiri. Jadi, sementara belum bisa menjadi seorang psikolog, aku menginginkan sebuah pekerjaan yang dinamis, dimana aku bisa ketemu banyak orang, interaksi dengan mereka, seperti marketing atau public relation. Pekerjaanku yang sekarang…justru lebih banyak sisi statis daripada dinamisnya. Aku lebih banyak berurusan dengan data daripada dengan manusia, dan kalaupun berurusan dengan manusia itu hanya untuk mengurusi psikotes atau kontrak. Sangat jauh dari bayanganku tentang my ideal job.


Baru 2 bulan aku sudah mulai melamar kanan-kiri. Aku nggak betah! Aku mau keluar dari sini! Tapi anehnya, nggak satu pun lamaranku yang diterima. Bukannya sombong, tapi aku lulusan dari salah satu universitas negeri yang paling bergengsi dan dari jurusan yang juga cukup populer. Lama-lama aku mulai frustasi karena benar-benar merasa nggak tahan, sementara untuk mengajukan resign tanpa back up pekerjaan yang baru, aku juga nggak mau. Being jobless and not having regular income is not nice! Aku lebih rajin lagi untuk mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Hasilnya masih terus sama. Sampai akhirnya suatu hari Tuhan ngasih tahu aku bahwa Dia memang sengaja menaruh aku di tempatku yang sekarang. Ada pelajaran-pelajaran yang aku harus pelajari di situ; yang pertama adalah pikiranku yang tadinya sangat cepat (reaktif dan impulsive) dalam menyikapi sesuatu dipaksa untuk lebih tenang dan sabar.


Aku percaya kita semua ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Bayangkan apa jadinya kalau seorang pemimpin bersikap impulsif atau reaktif terhadap situasi yang dihadapinya. Kacau pastinya. Misalnya, Barack Obama tersinggung oleh ucapan salah satu diplomat dari negara lain dan langsung menyatakan perang terhadap negara asal diplomat tersebut. Kesannya konyol, tapi aku pribadi terkadang melakukan hal itu. Aku tersinggung oleh ucapan seseorang dan langsung “menyatakan perang” terhadap orang itu, nggak lupa untuk mengajak orang lain dalam perang tersebut. Aku juga sering mendengar orang yang sangat marah terhadap kelakuan pacarnya dan bersikap impulsif dengan langsung minta putus, tapi kemudian setelah sampai di rumah atau beberapa hari kemudian menyesal setengah mati karena sebenarnya masih sangat sayang dengan si pacar. Atau kadang, di tempat kerja kita tersinggung oleh ucapan atasan dan dengan impulsif akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan itu hanya karena nggak suka pada atasan tersebut. Padahal, untuk jadi seorang pemimpin yang baik kita justru dituntut untuk menghindari sikap reaktif tersebut. Kita harus bisa berpikir tenang untuk merencanakan strategi terbaik dalam menghadapi suatu situasi.

John C Maxwell dalam bukunya Leadership menuliskan “Jika anda ingin membentuk seseorang menjadi pemimpin, perlakukanlah ia seolah-olah ia sudah menjadi seorang pemimpin." Kurasa hal itu juga berlaku untuk diri kita sendiri; jika kita ingin menjadi seorang pemimpin mulailah berpikir dan bertindak layaknya seorang pemimpin. Aku mulai belajar untuk bias berpikir dan bertindak sebagai seorang pemimpin. Setiap kali aku menghadapi masalah atau konflik di pekerjaan, hal pertama yang kutanyakan adalah “jika aku adalah seorang pemimpin, bagaimana aku akan bereaksi terhadap masalah ini? Bagaimana aku akan memimpin orang-orang yang juga mengalami masalah ini untuk keluar dari permasalahan mereka?” Di tempat ini Tuhan mau membawa aku ke level yang lebih tinggi



Andai saja aku sudah resign dan pindah pekerjaan, mungkin aku nggak akan mempelajari hal-hal yang sudah ku pelajari sekarang dan aku nggak akan terupgrade. Saat ini aku memutuskan untuk setia hanya pada perintahNya terlepas dari seberapa menakutkan atau menyebalkannya itu karena aku tahu akhir dari tiap rancanganNya adalah sesuatu yang indah.


Kel 33:15-16
Berkatalah Musa Kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
Dari manakah dapat diketahui bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapanMu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?
"




Saturday, April 11, 2009

Thank you for the lesson



Belum lama ini aku sempat punya pengalaman nggak enak sama salah satu pemimpin di gerejaku, kita sebut saja Kak Irene (bukan nama sebenarnya). We had a fight…a quite big one; dimana itu melibatkan nada suara yang “overtune” beberapa kali dari kedua belah pihak, berakhir dengan aku keluar ruangan dengan airmata yang sudah mengalir cukup deras dan proyekku yang sudah hampir selesai di sekolah minggu dibatalkan. Kak Irene juga menilai bahwa aku belum sepenuh hati dalam melayani sedangkan menurutku aku memiliki komitmen yang cukup tinggi dalam pelayanan itu.

Bohong kalau aku bilang aku nggak bête setengah mati sama dia. Aku amat sangat bête sekali! Tapi, terlepas dari perasaan bêteku, aku sadar bahwa apa yang terjadi itu bukan penting, melainkan pelajarannya. Yang terjadi, itu sudah kejadian, nggak bisa diubah lagi. Lagipula, kalau mau ditanya siapa yang salah dalam peristiwa itu...Kak Irene punya versinya dan aku pun punya versiku sendiri. Kalaupun setelah melalui berbagai penyelidikan dan pertimbangan dan akhirnya sudah diputuskan siapa yang salah, siapa yang benar and then what?! Lets say aku yang benar, terus apa? Itu nggak akan bikin aku lebih hebat atau lebih “holly” dari dia.

Di keluargaku sangat ditekankan, kalau ada masalah langsung tanya sama diri sendiri, apa pelajarannya? Apa pesan Tuhan buat aku melalui masalah ini? Apa yang aku masih harus benahi dalam diriku? Semakin besar masalahnya berarti semakin besar pula pelajarannya. Malam ini aku sudah tahu apa yang Tuhan coba sampaikan lewat masalah ini dan aku (setelah beberapa hari pertarungan antara ego dan kesadaran) berterimakasih sama Kak Irene karena dia mau mengambil peran yang dia mainkan saat itu sehingga aku bisa belajar.


Salah satu hal besar yang aku pelajari dari peristiwa itu adalah pentingnya untuk melibatkan orang lain dalam proses berpikir kita. Kalau kita punya komitmen tinggi terhadap sesuatu, tapi kita nggak pernah share hal itu sama orang lain, dari mana orang bisa tahu bahwa kita memang commit? Kalau memang kita sudah ambil tindakan terhadap sesuatu tapi nggak pernah melibatkan atau minimal share ke orang sekitar kita bahwa kita sudah ambil tindakan, dari mana mereka tahu? Let’s say aku sangat sayang sama seseorang. Aku sering sms dia, sering belikan dia makanan, kalau dia sakit aku jenguk dll. Tapi, aku nggak pernah ngasih tahu hal itu ke siapapun, bahkan nggak juga ke sahabatku. Kemungkinan besar yang tahu bahwa aku sayang sama orang itu cuma aku, dia dan Tuhan, karena aku nggak pernah bilang siapapun. Sama halnya dengan kasusku, mungkin yang tahu bahwa aku serius dalam proyek itu cuma aku, anak-anak didikku dan Tuhan. Malam ini aku diingatkan bahwa orang sekitar kita bukan dukun yang tanpa kita kasih tahu bisa tahu isi hati kita tentang seberapa peduli atau seberapa commit kita terhadap sesuatu.

So once again, terimakasih Tuhan untuk pelajarannya...thanks for the lesson:)