Friday, April 24, 2009

Rainbow after the storm





Ku tahu tiada pelangi di langitku

Ku tahu badai menghadangku

Aku pun tahu aku kan hancur

Dihancurkan dan dihempaskan


Namun ku tak gentar

Karena satu ku percaya

Sgala yang Dia perbuat

Kan jadikanku lebih berharga


Bagai emas yang tengah ditempa

Dia kan jadikan mulia

Bagai pelangi yang dilukisNya setelah badai

Dia kan jadikan semuanya lebih indah

Sesuai kehendakMu




Meski berat kurasa

Meski badai menghadang

Namun ku kan setia hanya pada Mu


Jika bukan oleh perintah Mu

Jangan biarkan kakiku melangkah

Jika bukan karena apa yang Kau mau

Jangan biarkan ku bertindak


Hidupku Bapa hanya milikMu

Hidupku Tuhan ku s’rahkan pada Mu

Setia

Beberapa waktu ini aku sedang bergumul tentang hal ini di dalam pekerjaan. Seringkali terlintas pemikiran untuk keluar atau mencari pekerjaan yang lain. Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa disyukuri tentang pekerjaanku yang sekarang; jarak yang sangat dekat dari rumah (berangkat 5 menit, pulang 15 menit), direkturku yang kekeluargaan dan sangat jarang marah, peraturan perusahaan yang tidak terlalu ketat, kebebasan dalam berpakaian, kami bahkan boleh memasang musik saat jam kerja. Sounds like a dream job? Maybe, but not for me.


Mungkin orang akan bilang aku tidak bersyukur, trust me I’m very grateful! Masalahnya, saat ini aku merasa ini bukan jenis pekerjaan yang cocok untukku. Cita-citaku yang sebenarnya adalah untuk jadi seorang psikolog, tapi karena aku memutuskan untuk meraih gelar S2 ku dengan hasil jerih payahku sendiri. Jadi, sementara belum bisa menjadi seorang psikolog, aku menginginkan sebuah pekerjaan yang dinamis, dimana aku bisa ketemu banyak orang, interaksi dengan mereka, seperti marketing atau public relation. Pekerjaanku yang sekarang…justru lebih banyak sisi statis daripada dinamisnya. Aku lebih banyak berurusan dengan data daripada dengan manusia, dan kalaupun berurusan dengan manusia itu hanya untuk mengurusi psikotes atau kontrak. Sangat jauh dari bayanganku tentang my ideal job.


Baru 2 bulan aku sudah mulai melamar kanan-kiri. Aku nggak betah! Aku mau keluar dari sini! Tapi anehnya, nggak satu pun lamaranku yang diterima. Bukannya sombong, tapi aku lulusan dari salah satu universitas negeri yang paling bergengsi dan dari jurusan yang juga cukup populer. Lama-lama aku mulai frustasi karena benar-benar merasa nggak tahan, sementara untuk mengajukan resign tanpa back up pekerjaan yang baru, aku juga nggak mau. Being jobless and not having regular income is not nice! Aku lebih rajin lagi untuk mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Hasilnya masih terus sama. Sampai akhirnya suatu hari Tuhan ngasih tahu aku bahwa Dia memang sengaja menaruh aku di tempatku yang sekarang. Ada pelajaran-pelajaran yang aku harus pelajari di situ; yang pertama adalah pikiranku yang tadinya sangat cepat (reaktif dan impulsive) dalam menyikapi sesuatu dipaksa untuk lebih tenang dan sabar.


Aku percaya kita semua ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Bayangkan apa jadinya kalau seorang pemimpin bersikap impulsif atau reaktif terhadap situasi yang dihadapinya. Kacau pastinya. Misalnya, Barack Obama tersinggung oleh ucapan salah satu diplomat dari negara lain dan langsung menyatakan perang terhadap negara asal diplomat tersebut. Kesannya konyol, tapi aku pribadi terkadang melakukan hal itu. Aku tersinggung oleh ucapan seseorang dan langsung “menyatakan perang” terhadap orang itu, nggak lupa untuk mengajak orang lain dalam perang tersebut. Aku juga sering mendengar orang yang sangat marah terhadap kelakuan pacarnya dan bersikap impulsif dengan langsung minta putus, tapi kemudian setelah sampai di rumah atau beberapa hari kemudian menyesal setengah mati karena sebenarnya masih sangat sayang dengan si pacar. Atau kadang, di tempat kerja kita tersinggung oleh ucapan atasan dan dengan impulsif akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan itu hanya karena nggak suka pada atasan tersebut. Padahal, untuk jadi seorang pemimpin yang baik kita justru dituntut untuk menghindari sikap reaktif tersebut. Kita harus bisa berpikir tenang untuk merencanakan strategi terbaik dalam menghadapi suatu situasi.

John C Maxwell dalam bukunya Leadership menuliskan “Jika anda ingin membentuk seseorang menjadi pemimpin, perlakukanlah ia seolah-olah ia sudah menjadi seorang pemimpin." Kurasa hal itu juga berlaku untuk diri kita sendiri; jika kita ingin menjadi seorang pemimpin mulailah berpikir dan bertindak layaknya seorang pemimpin. Aku mulai belajar untuk bias berpikir dan bertindak sebagai seorang pemimpin. Setiap kali aku menghadapi masalah atau konflik di pekerjaan, hal pertama yang kutanyakan adalah “jika aku adalah seorang pemimpin, bagaimana aku akan bereaksi terhadap masalah ini? Bagaimana aku akan memimpin orang-orang yang juga mengalami masalah ini untuk keluar dari permasalahan mereka?” Di tempat ini Tuhan mau membawa aku ke level yang lebih tinggi



Andai saja aku sudah resign dan pindah pekerjaan, mungkin aku nggak akan mempelajari hal-hal yang sudah ku pelajari sekarang dan aku nggak akan terupgrade. Saat ini aku memutuskan untuk setia hanya pada perintahNya terlepas dari seberapa menakutkan atau menyebalkannya itu karena aku tahu akhir dari tiap rancanganNya adalah sesuatu yang indah.


Kel 33:15-16
Berkatalah Musa Kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
Dari manakah dapat diketahui bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapanMu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?
"




Saturday, April 11, 2009

Thank you for the lesson



Belum lama ini aku sempat punya pengalaman nggak enak sama salah satu pemimpin di gerejaku, kita sebut saja Kak Irene (bukan nama sebenarnya). We had a fight…a quite big one; dimana itu melibatkan nada suara yang “overtune” beberapa kali dari kedua belah pihak, berakhir dengan aku keluar ruangan dengan airmata yang sudah mengalir cukup deras dan proyekku yang sudah hampir selesai di sekolah minggu dibatalkan. Kak Irene juga menilai bahwa aku belum sepenuh hati dalam melayani sedangkan menurutku aku memiliki komitmen yang cukup tinggi dalam pelayanan itu.

Bohong kalau aku bilang aku nggak bête setengah mati sama dia. Aku amat sangat bête sekali! Tapi, terlepas dari perasaan bêteku, aku sadar bahwa apa yang terjadi itu bukan penting, melainkan pelajarannya. Yang terjadi, itu sudah kejadian, nggak bisa diubah lagi. Lagipula, kalau mau ditanya siapa yang salah dalam peristiwa itu...Kak Irene punya versinya dan aku pun punya versiku sendiri. Kalaupun setelah melalui berbagai penyelidikan dan pertimbangan dan akhirnya sudah diputuskan siapa yang salah, siapa yang benar and then what?! Lets say aku yang benar, terus apa? Itu nggak akan bikin aku lebih hebat atau lebih “holly” dari dia.

Di keluargaku sangat ditekankan, kalau ada masalah langsung tanya sama diri sendiri, apa pelajarannya? Apa pesan Tuhan buat aku melalui masalah ini? Apa yang aku masih harus benahi dalam diriku? Semakin besar masalahnya berarti semakin besar pula pelajarannya. Malam ini aku sudah tahu apa yang Tuhan coba sampaikan lewat masalah ini dan aku (setelah beberapa hari pertarungan antara ego dan kesadaran) berterimakasih sama Kak Irene karena dia mau mengambil peran yang dia mainkan saat itu sehingga aku bisa belajar.


Salah satu hal besar yang aku pelajari dari peristiwa itu adalah pentingnya untuk melibatkan orang lain dalam proses berpikir kita. Kalau kita punya komitmen tinggi terhadap sesuatu, tapi kita nggak pernah share hal itu sama orang lain, dari mana orang bisa tahu bahwa kita memang commit? Kalau memang kita sudah ambil tindakan terhadap sesuatu tapi nggak pernah melibatkan atau minimal share ke orang sekitar kita bahwa kita sudah ambil tindakan, dari mana mereka tahu? Let’s say aku sangat sayang sama seseorang. Aku sering sms dia, sering belikan dia makanan, kalau dia sakit aku jenguk dll. Tapi, aku nggak pernah ngasih tahu hal itu ke siapapun, bahkan nggak juga ke sahabatku. Kemungkinan besar yang tahu bahwa aku sayang sama orang itu cuma aku, dia dan Tuhan, karena aku nggak pernah bilang siapapun. Sama halnya dengan kasusku, mungkin yang tahu bahwa aku serius dalam proyek itu cuma aku, anak-anak didikku dan Tuhan. Malam ini aku diingatkan bahwa orang sekitar kita bukan dukun yang tanpa kita kasih tahu bisa tahu isi hati kita tentang seberapa peduli atau seberapa commit kita terhadap sesuatu.

So once again, terimakasih Tuhan untuk pelajarannya...thanks for the lesson:)