Beberapa waktu ini aku sedang bergumul tentang hal ini di dalam pekerjaan. Seringkali terlintas pemikiran untuk keluar atau mencari pekerjaan yang lain. Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa disyukuri tentang pekerjaanku yang sekarang; jarak yang sangat dekat dari rumah (berangkat 5 menit, pulang 15 menit), direkturku yang kekeluargaan dan sangat jarang marah, peraturan perusahaan yang tidak terlalu ketat, kebebasan dalam berpakaian, kami bahkan boleh memasang musik saat jam kerja. Sounds like a dream job? Maybe, but not for me.
Mungkin orang akan bilang aku tidak bersyukur, trust me I’m very grateful! Masalahnya, saat ini aku merasa ini bukan jenis pekerjaan yang cocok untukku. Cita-citaku yang sebenarnya adalah untuk jadi seo
rang psikolog, tapi karena aku memutuskan untuk meraih gelar S2 ku dengan hasil jerih payahku sendiri. Jadi, sementara belum bisa menjadi seorang psikolog, aku menginginkan sebuah pekerjaan yang dinamis, dimana aku bisa ketemu banyak orang, interaksi dengan mereka, seperti marketing atau public relation. Pekerjaanku yang sekarang…justru lebih banyak sisi statis daripada dinamisnya. Aku lebih banyak berurusan dengan data daripada dengan manusia, dan kalaupun berurusan dengan manusia itu hanya untuk mengurusi psikotes atau kontrak. Sangat jauh dari bayanganku tentang my ideal job.
Baru 2 bulan aku sudah mulai melamar kanan-kiri. Aku nggak betah! Aku mau keluar dari sini! Tapi anehnya, nggak satu pun lamaranku yang diterima. Bukannya sombong, tapi aku lulusan dari salah satu universitas negeri yang paling bergengsi dan dari jurusan yang juga cukup populer. Lama-lama aku mulai frustasi karena benar-benar merasa nggak tahan, sementara untuk mengajukan resign tanpa back up pekerjaan yang baru, aku juga nggak mau. Being jobless and not having regular income is not nice! Aku lebih rajin lagi untuk mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Hasilnya masih terus sama. Sampai akhirnya suatu hari Tuhan ngasih tahu aku bahwa Dia memang sengaja menaruh aku di tempatku yang sekarang.
Aku percaya kita semua ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Bayangkan apa jadinya kalau seorang pemimpin bersikap impulsif atau reaktif terhadap situasi yang dihadapinya. Kacau pastinya. Misalnya, Barack Obama tersinggung oleh ucapan salah satu diplomat dari negara lain dan langsung menyatakan perang terhadap negara asal diplomat tersebut. Kesannya konyol, tapi aku pribadi terkadang melakukan hal itu. Aku tersinggung oleh ucapan seseorang dan langsung “menyatakan perang” terhadap orang itu, nggak lupa untuk mengajak orang lain dalam perang tersebut. Aku juga sering mendengar orang yang sangat marah terhadap kelakuan pacarnya dan bersikap impulsif dengan langsung minta putus, tapi kemudian setelah sampai di rumah atau beberapa hari kemudian menyesal setengah mati karena sebenarnya masih sangat sayang dengan si pacar. Atau kadang, di tempat kerja kita tersinggung oleh ucapan atasan dan dengan impulsif akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan itu hanya karena nggak suka pada atasan tersebut. Padahal, untuk jadi seorang pemimpin yang baik kita justru dituntut untuk menghindari sikap reaktif tersebut. Kita harus bisa berpikir tenang untuk merencanakan strategi terbaik dalam menghadapi suatu situasi.
diri kita sendiri; jika kita ingin menjadi seorang pemimpin mulailah berpikir dan bertindak layaknya seorang pemimpin. Aku mulai belajar untuk bias berpikir dan bertindak sebagai seorang pemimpin. Setiap kali aku menghadapi masalah atau konflik di pekerjaan, hal pertama yang kutanyakan adalah “jika aku adalah seorang pemimpin, bagaimana aku akan bereaksi terhadap masalah ini? Bagaimana aku akan memimpin orang-orang yang juga mengalami masalah ini untuk keluar dari permasalahan mereka?” Di tempat ini Tuhan mau membawa aku ke level yang lebih tinggi
Andai saja aku sudah resign dan pindah pekerjaan, mungkin aku nggak akan mempelajari hal-hal yang sudah ku pelajari sekarang dan aku nggak akan terupgrade. Saat ini aku memutuskan untuk setia hanya pada perintahNya terlepas dari seberapa menakutkan atau menyebalkannya itu karena aku tahu akhir dari tiap rancanganNya adalah sesuatu yang indah.

Kel 33:15-16
Berkatalah Musa Kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
Dari manakah dapat diketahui bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapanMu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?"
No comments:
Post a Comment