Belum lama ini aku sempat punya pengalaman nggak enak sama salah satu pemimpin di gerejaku, kita sebut saja Kak Irene (bukan nama sebenarnya). We had a fight…a quite big one; dimana itu melibatkan nada suara yang “overtune” beberapa kali dari kedua belah pihak, berakhir dengan aku keluar ruangan dengan airmata yang sudah mengalir cukup deras dan proyekku yang sudah hampir selesai di sekolah minggu dibatalkan. Kak Irene juga menilai bahwa aku belum sepenuh hati dalam melayani sedangkan menurutku aku memiliki komitmen yang cukup tinggi dalam pelayanan itu.
Bohong kalau aku bilang aku nggak bête setengah mati sama dia. Aku amat sangat bête sekali! Tapi, terlepas dari perasaan bêteku, aku sadar bahwa apa yang terjadi itu bukan penting, melainkan pelajarannya. Yang terjadi, itu sudah kejadian, nggak bisa diubah lagi. Lagipula, kalau mau ditanya siapa yang salah dalam peristiwa itu...Kak Irene punya versinya dan aku pun punya versiku sendiri. Kalaupun setelah melalui berbagai penyelidikan dan pertimbangan dan akhirnya sudah diputuskan siapa yang salah, siapa yang benar and then what?! Lets say aku yang benar, terus apa? Itu nggak akan bikin aku lebih hebat atau lebih “holly” dari dia.
Di keluargaku sangat ditekankan, kalau ada masalah langsung tanya sama diri sendiri, apa pelajarannya? Apa pesan Tuhan buat aku melalui masalah ini? Apa yang aku masih harus benahi dalam diriku? Semakin besar masalahnya berarti semakin besar pula pelajarannya. Malam ini aku sudah tahu apa yang Tuhan coba sampaikan lewat masalah ini dan aku (setelah beberapa hari pertarungan antara ego dan kesadaran) berterimakasih sama Kak Irene karena dia mau mengambil peran yang dia mainkan saat itu sehingga aku bisa belajar.
Salah satu hal besar yang aku pelajari dari peristiwa itu adalah pentingnya untuk melibatkan orang lain dalam proses berpikir kita. Kalau kita punya komitmen tinggi terhad
ap sesuatu, tapi kita nggak pernah share hal itu sama orang lain, dari mana orang bisa tahu bahwa kita memang commit? Kalau memang kita sudah ambil tindakan terhadap sesuatu tapi nggak pernah melibatkan atau minimal share ke orang sekitar kita bahwa kita sudah ambil tindakan, dari mana mereka tahu? Let’s say aku sangat sayang sama seseorang. Aku sering sms dia, sering belikan dia makanan, kalau dia sakit aku jenguk dll. Tapi, aku nggak pernah ngasih tahu hal itu ke siapapun, bahkan nggak juga ke sahabatku. Kemungkinan besar yang tahu bahwa aku sayang sama orang itu cuma aku, dia dan Tuhan, karena aku nggak pernah bilang siapapun. Sama halnya dengan kasusku, mungkin yang tahu bahwa aku serius dalam proyek itu cuma aku, anak-anak didikku dan Tuhan. Malam ini aku diingatkan bahwa orang sekitar kita bukan dukun yang tanpa kita kasih tahu bisa tahu isi hati kita tentang seberapa peduli atau seberapa commit kita terhadap sesuatu.So once again, terimakasih Tuhan untuk pelajarannya...thanks for the lesson:)
No comments:
Post a Comment