Beberapa minggu yang lalu perusahaanku merayakan ulang tahun yang ke 7, dan karena direkturku sangat suka karaoke beliau menjadikan "sumbang lagu" sebagai bagian wajib dari acara tersebut. Sudah pasti para karyawan pun diminta untuk ikut sumbang lagu.Seperti bisa ditebak, kami mulai rusuh saling menyuruh yang lainnya untuk maju. Dalam hati sebenarnya aku ingin maju tapi...
…
Mamaku punya suara yang bagus, dan sepertinya itu menurun ke anak-anaknya. Adikku, satu tingkat di bawahku, punya suara yang sangat bening, tipe yang bisa bikin kita takjub. Dua adikku yang lain awalnya punya suara yang agak fals tapi seiring dengan waktu somehow suara mereka pun jadi merdu. Sedangkan aku sendiri, dari kecil aku sangat suka bernyanyi dan menurutku suaraku nggak kalah bagus dengan adik-adikku.
Tapi sayangnya...semua itu hanya menurutku, orang lain sepertinya nggak ada yang setuju.
Pernah suatu ketika aku bersenandung, waktu itu adikku duduk di dekatku. Beberapa lama kemudian dia melihat ke arahku dan bilang "oh, yang nyanyi-nyanyi tuh kakak, aku kira tadi itu suara kucing di belakang." Ouch! Yang lebih dalam adalah dia bilang seperti itu bukan dalam rangka bercanda, tapi dia benar-benar mengira suaraku adalah suara kucing yang sedang mengeong-ngeong. Ayah tiriku bahkan pernah tertawa setelah mendengarku bernyanyi dan bertanya (dengan serius) " kamu kok kalo nyanyi nadanya nggak ada yang benar ya?" talking 'bout painful honesty...So, bisa dibilang suaraku itu sering dijadiin bahan ejek-ejekan di rumah. Dan aku belajar untuk ikut tertawa…walau kadang itu menyakitkan.
Nggak lama setelah bergabung dengan gerejaku yang sekarang aku ditarik ke divisi musik untuk jadi singer. Bukan karena suaraku bagus, tapi karena para “tetua” ingin memberdayakan anak-anak pemudanya supaya kami punya wadah penyaluran kreativitas. Satu sisi aku sih senang-senang saja karena pada dasarnya aku suka menyanyi. Tapi di sisi lain…aku merasa minder. Aku merasa semua anak-anak pemuda yang ikut jadi singer bersamaku punya suara yang lebih baik, bahwa suaraku yang paling “hancur” di antara semuanya. Bahkan kalau kepercayaan diriku sedang “terjun bebas”, aku kadang merasa alasan aku tidak dikeluarkan dari divisi musik adalah karena para tetua itu merasa tidak tega kalau harus mendepakku…dan juga fakta saat itu departemen musik agak kekurangan orang. Yang lebih parah lagi adalah…adikku ada di satu divisi yang sama denganku…aku selalu berpikir bahwa sedikit banyak orang pasti membanding-bandingkan kami…
Tapi, walaupun aku sering sekali merasa minder dan nggak mampu, aku nggak pernah berhenti karena perasaan-perasaan itu. Aku coba untuk tetap maju. Untukku, itu adalah talenta yang Tuhan sudah percayakan ke aku. Mungkin talenta yang aku punya nggak seberapa, bahkan jauh lebih kecil dibandingkan milik orang lain, tapi aku mau mempertanggungjawabkannya. Aku sadar bahwa suaraku nggak sebagus yang lain, jadi aku coba untuk menyumbangkan sesuatu yang lain untuk divisi musik. Aku menyumbangkan semangatku.
Aku mencoba untuk nggak peduli dengan kelemahanku dan justru memfokuskan sama kekuatanku. Sebagai singer, kadang nggak selalu gampang untuk bias full spirit di panggung. Kadang aku selisih paham dengan pemimpin pujian, kadang aku merasa nggak siap karena tahu-tahu pendetanya membawakan lagu yang aku nggak tahu sama sekali, kadang aku sedang mengalami masalah yang berat, kadang aku simply sedang nggak mood untuk pelayanan, tapi setiap aku naik ke atas panggung, aku coba untuk kesampingkan itu semua dan fokus dengan apa yang kulakukan. Aku mempersembahkan lagu dan hatiku ke Tuhan, dan aku mencoba untuk membantu jemaat melakukan hal yang sama.
Satu kali aku mendengar kesaksian seorang pendeta yang menyentuh jiwaku. Dia bilang dulu suaranya sangat sumbang dan sering di jadikan bahan ejekan teman-temannya. Tapi, Tuhan membela dia dan secara perlahan menjadikan suaranya menjadi bagus dan sekarang dia sudah menjadi seorang pemimpin pujian dan dapat dengan bangga memamerkan suaranya. Saat aku mendengar itu aku sangat tersentuh. Aku bilang ke Tuhan “ Tuhan, aku mau seperti orang itu. Aku mau suatu saat aku akan jadi seorang pimpinan pujian yang hebat!” Bukan untuk kebanggaanku (walaupun itu pasti akan membanggakan J ), tapi untuk menjadikan hal itu sebagai kesaksian akan kasih Tuhan.

Walaupun itu adalah permintaanku, aku tidak berani mempercayai jawabanNya.
….
Kembali ke pesta ulang tahun perusahaanku. Singkat cerita, aku akhirnya memutuskan untuk menyumbang lagu. Waktu itu aku duet dengan salah seorang rekan kerjaku, karena nggak pede aku membiarkan dia untuk “membuka nada” biar nanti aku yang mengikuti. Karena sudah biasa menjadi singer, setidaknya aku biasa untuk berekspresi saat menyanyi. Aku yang awalnya sangat gugup (biar bagaimanapun ini di depan banyak orang yang tidak kukenal) akhirnya merasa santai. Begitu selesai, beberapa orang menyerukan “more!more!” yang tadinya hanya kuanggap bercandaan biasa saat ada rekan yang habis menyanyi. Tapi kemudian, direkturku meminta supaya aku membawakan satu lagu lagi…dan kali ini dia khusus meminta agar aku menyanyi solo. Bahkan, pada saat suasana mulai meredup, beliau sempat memintaku (dan bukan yang lainnya meskipun banyak yang suaranya cukup bagus) untuk membawa satu lagu lagi. “Well, he likes my singing!” batinku. Tapi saat itu aku masih berpikir ia menyukai nyanyianku karena gayaku yang cuek. Sore itu, salah satu rekanku berkata “ suara loe bagus juga ya!” Hatiku rasanya terbang saat mendengar pujian itu! Dan ternyata, ia bukan satu-satunya yang memujiku. Beberapa rekan yang lain, dan juga salah satu atasanku juga memuji bahwa aku memiliki suara yang bagus!
Aku tahu pujian itu bukan untukku, tapi bagi Dia yang memampukanku. Aku, yang sebelumnya dibilang tidak pernah bisa menyanyikan lagu dengan nada yang tepat, bahkan senandungku dibilang seperti suara kucing, sekarang bisa menyanyi…dan dianggap memiliki suara yang bagus. Aku tahu masih banyak sekali yang harus kupelajari, masih banyak kekuranganku dalam mengolah vocal dan aku juga tahu aku takkan pernah sebagus beberapa orang di sekitarku. Tapi bagiku, pengakuan ini adalah pembuktian Tuhan bahwa apa yang kuminta bukanlah sesuatu yang mustahil, bahwa apa yang Ia janjikan itu mungkin untuk terjadi selama aku mau mempercayai dan mengembangkan talenta yang ia berikan ini, sekecil apapun itu. Bagiku, pengakuan tersebut adalah langkah awalku untuk mewujudkan keinginanku untuk suatu saat dapat berada di depan banyak orang dan menjadi seorang pemimpin pujian yang dapat menyatakan kasih dan kuasaNya.
Nothing is impossible, but only by His grace.


No comments:
Post a Comment