
Tak ketinggalan, facebook pun penuh dengan status-status yang mengomentari hal tersebut. Banyak yang memperkirakan bahwa ledakan tersebut adalah hasil perbuatan para teroris seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sebagian besar komentar yang kubaca menyatakan kemarahan mereka terhadap peristiwa itu; betapa biadab dan kejinya kaum terroris karena telah melakukan pemboman yang merenggut nyawa beberapa orang dan melukai banyak orang yang lainnya.
Di satu sisi kita diperhadapkan dengan kekejian hati manusia. Betapa manusia bisa mengorbankan apapun dan siapapun demi kepentingannya. Bahwa mereka akan menggunakan segala cara, termasuk meledakkan dua buah hotel besar, tidak peduli siapa yang dirugikan atau siapa yang terluka, selama mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, di sisi lain peristiwa tersebut adalah juga sebuah ajakan untuk mengasihi. Peristiwa peledakan seperti itu terjadi karena minimnya kasih dalam hati orang-orang tersebut.
Take away love and our earth is a tomb.
- Robert Browning
Quote di atas sangat tepat menggambarkan apa yang baru saja terjadi. Tanpa kasih, dunia ini akan berubah menjadi pemakaman; tanpa kehidupan. Jika saja para teroris itu memiliki cukup kasih di hati mereka, mereka tidak akan melakukan peledakan seperti yang sudah mereka lakukan. Kita hanya dapat memberikan apa yang kita miliki. Saat apa yang kita berikan adalah sesuatu yang menyakitkan, itu hanya menggambarkan bahwa hati kita pun dipenuhi dengan hal-hal yang negatif. Saat ini Tuhan mau menantang kita untuk mengampuni dan mengasihi musuh kita, karena hanya dengan kasih hati mereka akan dilembutkan. Dengan mengampuni dan mengasihi, setidaknya kita berkontribusi untuk "meredakan aura negatif" di sekitar kita. Api tidak akan pernah padam kalau dilawan dengan api.
Selain itu, kurasa Tuhan juga mau mengingatkan tentang hal-hal yang penting dalam hidup kita, hal-hal yang kita katakan kita cintai, namun kadang tidak terlalu perdulikan. Seringkali saat mendengar berita-berita mengenai bencana seperti yang baru saja terjadi, aku terpikir....seandainya aku termasuk salah satu yang tewas....hanya ada dua pertanyaan yang selalu muncul di benakku: am i loved enough? Have i love enough? Jika peristiwa seperti pemboman ini terjadi, dan aku adalah salah satu korbannya, aku tidak mau menyesal karena aku tidak cukup mengungkapkan betapa aku mengasihi orang-orang yang kukasihi. Atau kadang, aku berpikir sebaliknya: bagaimana jika seandainya orang-orang yang kukasihi menjadi salah satu korbannya. Pada saat memikirkan hal ini biasanya aku disadarkan kembali betapa penting arti mereka dalam hidupku, dan betapa aku bersyukur saat ini masih bisa bersama mereka. Dua pemikiran tersebut selalu mengingatkanku untuk terus menghargai orang-orang dalam hidupku, karena aku tak pernah tahu kapan aku kehilangan mereka...atau mereka kehilanganku.
Seringkali saat sesuatu yang mengerikan seperti ini terjadi, kita bertanya "Dimana Tuhan? Kalau memang Ia ada dan mengasihi manusia, mengapa Ia biarkan semua hal mengerikan ini terjadi?" Kurasa jawaban untuk pertanyaan itu hanya satu: Tuhan ada di tengah-tengah kita, dan Ia mengizinkan itu terjadi supaya kita ingat untuk lebih lagi dalam mengasihi. Ia ingin memastikan bahwa kali ini kita memperhatikan apa yang ingin Ia sampaikan, karena kadang kita mengabaikan peringatan yang lembut.
"God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pains; it is His megaphone to rouse a deaf world."
- C. S. Lewis
No comments:
Post a Comment